Sehari sebelum masuk bulan Ramadan saya dan istri tak punya rencana apa-apa, hanya ingin bersilaturahmi ke rumah ibu dan mempersiapkan bahan-bahan masak untuk sahur hari pertama puasa nanti. Tapi rencana berubah total manakala di pagi hari Rabu kemarin beberapa santri putri datang ke rumah minta izin untuk didampingi munggahan ke Curug Sawer Sukabumi.
Sebelumnya para santri ini sudah meminta izin ke rumah kakak yang menjadi ketua pesantren untuk tadabbur alam ke Curug Sawer. Izin dikantongi, namun sayangnya beliau tak bisa menemani. Akhirnya para santri disuruh ke rumah kami untuk meminta kesediaan mendampingi mereka ke Curug Sawer.
Akhirnya kita merasa iba juga dengan para santri yang ingin jalan-jalan dulu sebelum melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadan ini. Jadinya rencana awal kita akan pindahkan ke sore harinya setelah pulang dari Curug Sawer.
Munggahan sendiri adalah salah satu tradisi di Sunda yang ditandai dengan makan bersama atau botram keluarga sebelum memasuki bulan Ramadan. Dari sisi bahasa, munggahan itu kata dasarnya adalah munggah, bahasa Sunda yang artinya naik atau meningkat. Secara terminologi maksudnya adalah momen untuk beralih atau meningkat dari bulan Sya'ban ke bulan suci Ramadan.
Perjalanan ke Curug Sawer
Katanya munggahan itu identik dengan makan bersama, kok ini malah jalan-jalan ke Curug Sawer? Jadi memang rencana anak-anak itu memang mau botram, tapi, ya tempatnya ingin di Curug Sawer di Kadudampit.
Jadilah pagi itu serba mendadak menyiapkan makanan untuk botram anak-anak dengan jumlah kisaran 35. Tak lupa mengontak supir mobil untuk membawa anak-anak ke lokasi dan alhamdulillah nya supir dan mobilnya available, yang awalnya kita khawatir pak supir sudah punya rencana munggahan sendiri dengan keluarganya, tapi qodarullah beliau bisa walaupun dihubungi mendadak.
Setelah semua siap, maka berangkatlah kita ke Curug Sawer. Lokasinya tidak jauh dari kediaman kita dan rencanaya kita tidak full menggunakan mobil sampai ke lokasi, tetapi hanya setengah perjalanan, sisanya kita ingin jalan kaki sambil menikmati indahnya pemandangan alam di bawah kaki Gunung Gede Pangrango, menuju Curug Sawer.
Alhamdulillah akses menuju Curug Sawer ini sudah semakin baik dibandingkan kedatangan kami ke Curug Sawer sebelumnya. Walaupun tak mulus semua, tapi secara umum memang jalannya sudah lebih nyaman.
Sepanjang perjalanan kita dihadiahi pemandangan yang segar dan asri. Tanaman dan pepohonan dengan daun hijau sangat rimbun dan memberi kesan suasana yang segar. Beruntung juga kita beberapa kali dapat melihat monyet jenis lutung bergelantungan dengan bebasnya dari satu pohon ke pohon lainnya.
Harga Tiket Masuk Curug Sawer
Ada beberapa akses jalan yang bisa kita lalui untuk bisa sampai ke air terjun Curug Sawer. Teman-teman yang tertarik ke sini bisa mengambil paket yang sesuai dengan budget dan juga itinerary versi kita.
Pertama paket Suspension Bridge dan Curug Sawer. Jadi paket ini masuknya melalui gerbang utama Situ Gunung, kemudian berlanjut ke Suspension Bridge, jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara dan setelahnya lanjut ke Curug Sawer.
Ada juga paket Cinumpang dan Curug Sawer. Kalau ini kita masuknya melalui gerbang bumi perkemahan Cinumpang, sebelum Situ Gunung. Baru selanjutnya kita terus ke arah selatan menuju Curug Sawer.
Kalau kemarin kita menggunakan akses ke-3, yaitu melalui jalan Desa Wisata Sukamaju. Jalan ini baru dibuka setelah dibangunnya jalan lingkar utara Sukabumi. Perjalanan untuk sampai ke Curug Sawer dari gerbang Desa Wisata Sukamaju tidak sampai 1 jam. Kami akhirnya sampai di gerbang kawasan Curug Sawer dan disambut petugas yang menghitung pengunjung yang datang dan mengisyaratkan untuk membayar karcis masuk ke bagian kasir.
Untuk harga tiket masuk ke Curug Sawer ini adalah IDR 22.000. Tapi karena kita masuk kategori pelajar dan datang berkelompok, jadi HTM nya hanya IDR 12.000 saja. Untuk informasi detail harga tiket masuk Curug Sawer ini terpampang di bagian dinding depan ruang pembayaran. Agak kaget juga sih pas membaca HTM untuk warga negara asing yang sampai IDR 205.000 dan IDR 415.000 jika mau berkemah. Hmm..
Munggahan Ala Santri di Curug Sawer
Capenya perjalanan menuju Curug Sawer terbayarkan dengan pemandangan indah di depan mata. Tampak jelas air terjun dengan deburan airnya yang sangat jelas terdengar ketika turun ke bagian bawah, membuat kolam dan kemudian mengalir menganak sungai.
Beberapa sudah tak sabar ingin menikmati dinginnya air yang mengalir di sungai yang bersumber dari Curug Sawer ini. Tapi kita tahan dulu, anak-anak kita instruksikan untuk makan bersama dulu alias botram.
Botram ala santri di munggahan ini terbilang sederhana karena memang dadakan dan waktu terbatas untuk menyiapkannya. Kita hanya membawa nasi, ikan asin atau ikan teri, sambal, lalapan, kerupuk, dan bihun. Menu yang jauh dari kata fancy.. hehe.
Tapi kebersamaan saat makan bersama adalah sesuatu yang mahal. Kehangatan dan kekeluargaan menjadi pelipur ketika biasanya keluarga muslim berkumpul di hari pertama, anak-anak santri tetap di asrama dan menyiapkan diri untuk mengaji dengan kurikulum khusus Ramadan. Maka momen munggahan ini kami syukuri karena masih Allah berikan kepercayaan untuk menyambut Ramadan dalam keadaan sehat, seraya berdoa mudah-mudahan segala aktivitas kita di Ramadan tetap maksimal dan juga Allah berkahkan.
Setelah makan bersama selesai, anak-anak mulai turun ke sungai. Oh iya, kita dilarang untuk langsung bermain air atau berenang di bagian kolam air terjunnya karena airnya yang sangat deras dan juga dalam. Oleh karenanya kita hanya menikmati bermain air di sungai yang bersumber dari air terjun Curug Sawer saja, tanpa maju ke bagian pusatnya.
Air di sungai ini sangatlah dingin. Bahkan kita saja yang penduduk asli Sukabumi masih harus beradaptasi dengan dinginnya air sungai yang serasa air es ini. Tapi luar biasanya anak-anak, mereka tetap menikmatinya, bahkan lebih dari 1 jam mereka berada di sungai.
Kembali ke Pondok dan Bersiap Pasaran
Setelah jam menunjukan angka 12 anak-anak kita ajak naik dari sungai. Waktunya salat dzuhur. Alhamdulillah di kawasan wisata curug sawer ini ada 2 mushola yang bisa kita gunakan untuk salat. 1 di dekat tempat pembayaran karcis dan 1 lagi di dekat deretan kantin.
Kita pilih mushola yang dekat kantin jajanan karena lokasinya lebih dekat. Tempatnya cukup luas dan juga bersih. Untuk jamaah perempuan disediakan mukena juga, tapi alhamdullah anak-anak bawa, jadi mereka menggunakan mukena sendiri untuk melaksanakan salat dzuhur berjamaah setelah membersihkan diri, berganti pakaian, dan tak lupa mengambil air wudhu.
Selesai salat kita bersiap-siap untuk kembali ke pondok. Setelah dihitung semua lengkap, dari depan mushola kita kembali jalan kaki untuk pulang.
Seperti perjalanan awal, kita hanya berjalan setengah dari rute trekking curug sawer karena mobil yang akan menjemput anak-anak ternyata sudah siap. Akhirnya kita kembali pulang ke pondok dan alhamdulillah agenda dadakan munggahan anak-anak santri bisa terlaksana.
Malamnya kita perdana salat tarawih karena shaum nya mengikuti tanggal dari pemerintah yaitu hari Kamis. Setelah tarawih anak-anak bersiap untuk mengaji, yang mana setiap Ramadan ini program pengajiannya disebut dengan pasaran, sebuah kurikulum khas pesantren salafi tradisional di tanah Sunda yang mengkaji beberapa kitab khusus selama Ramadan saja, sehingga ketika musim libur idulfitri tiba, para santri sudah khatam dan bisa paham beberapa kitab yang dikahi khusus di bulan Ramadan ini.
Mudah-mudahan dengan acara jalan-jalan para santri dalam rangka menyambut Ramadan kali ini bisa menambah semangat mereka dalam belajar, khususnya di kurikulum pasaran yang akan mereka lalui di Ramadan ini. Aamin ya robbal aalamiin.









Posting Komentar