Ketika umroh atau haji, Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah menjadi 2 masjid yang membuat hati kita takjub dengan segala sisinya dan juga membuat hati tenang ketika berada di dalamnya. 2 Masjid ini melambangkan perjalanan dakwah Nabi dengan segala dinamikanya. Mekah yang penuh perjuangan dan Madinah yang menjadi titik balik kebangkitan.
Selain 2 masjid ikonik tersebut ada beberapa masjid lain baik di Mekah maupun di Madinah yang menjadi saksi perjuangan Nabi dan para sahabatnya. Nah, kali ini kita akan membahas masjid bersejarah yang ada di Madinah terlebih dahulu yang posisinya tidak jauh dengan Masjid Nabawi.
Mudah-mudahan ini bisa menjadi referensi teman-teman yang akan berangkat umroh sebagai tempat-tempat yang bisa kita ziarahi di sela-sela rangkaian ibadah di Madinah.
Dari Masjid Ghamamah sampai Masjid Para Sahabat
Ketika menginjakkan kaki di Madinah rasanya memang berbeda sekali dengan Mekah. Madinah seperti kota slow living dan tenang, sedangkan Mekah seperti kota perjuangan. Gambaran ini tampaknya tak jauh dari perjalanan dakwah Nabi. Ketika di Mekah, Nabi berjuang dengan banyak intimidasi dari suku-suku yang ada di sana sampai akhirnya berhijrah ke Madinah dan diterima di sana dengan terbuka oleh masyarakatnya.
Masjid Nabawi yang menjadi ikon utama Madinah sangat membuat hati ini betah berlama-lama di sana. Payung-payung raksasa berjejer rapi di pelataran masjid dan tiang-tiang yang berdiri kokoh di dalam masjid membuat kita bertambah takjub dengan desain masjid bersejarah ini.
Dan yang membuat hati ini selalu tertaut ke Masjid Nabawi tentu saja karena kita bisa berziarah ke makam Rasullulah di bagian Raudhoh. Bersyukurnya selama sepekan kemarin di Madinah bisa sampai 5 kali ziarah dan merapalkan segala doa kepada Allah di tempat yang dulunya adalah kediaman Nabi tersebut.
Dari informasi tour leader umroh, kita mendapatkan informasi bahwa ada beberapa masjid yang juga bersejarah di sekitar Masjid Nabawi ini. Masjid tersebut adalah Masjid Ghamamah, Abu Bakar dan Masjid Ali bin Abi Thalib.
Bersyukurnya ketika waktu lenggang selepas salat ashar kita diajak untuk berziarah juga ke masjid bersejarah tersebut. Namun sayangnya karena waktu terbatas kita hanya bisa melihat bagian luar nya saja dan kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan salat maghrib.
Esok harinya ketika ada free time saya menyempatkan kembali ke situs bersejarah tersebut sendirian karena teman-teman yang lain memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. Akhirnya berjalanlah ke arah barat daya dari Masjid Nabawi, jaraknya lebih kurang 300 meter.
Dan Alhamdulillah akhirnya bisa melihat kembali 3 masjid bersejarah di dekat Masjid Nabawi ini, masuk ke dalam ruangannya serta beri'tikaf di dalamnya. Ketika duduk beri'tikaf sembari melihat sekitar dalam masjid, di beberapa titik desain interornya yang tak diubah kita serasa dibawa ke 1.400 tahun silam. MasyaAllah.
Masjid Ghamamah
Masjid pertama yang dikunjungi adalah Masjid Ghamamah. Ghamamah sendiri adalah Bahasa Arab yang artinya awan.
Dalam sejarahnya disebutkan area Masjid Ghamamah dulunya adalah sebuah lapang terbuka. Area tersebut pernah dipakai oleh Nabi dan penduduk Madinah untuk melaksanakan salat Idulfitri dan juga salat Istisqo atau salat meminta hujan kepada Allah ketika Madinah dilanda musim panas berkepanjangan.
Lalu pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz area lapang terbuka tersebut dibangunlah sebuah masjid yang dinamai Masjid Ghamamah. Pada perkembangannya Masjid Ghamamah ini pernah mengalami renovasi, termasuk pada masa Raja Fahd.
Melihat bagian luar dan dalam ruangan Masjid Ghamamah ini sepertinya sangat kental dengan seni arsitektur masa Ottoman. Hal ini terlihat dari ciri khas kubah-kubah kecil dengan warna putih yang mendominasi.
Masjid Abu Bakar Assidiq
Selanjutnya ada Masjid Abu Bakar yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Ghamamah. Sama seperti Masjid Ghamamah, awalnya Masjid Abu Bakar Sidiq adalah sebuah lapang terbuka yang dalam sejarah disebutkan pernah digunakan untuk salat Id' oleh Nabi, Abu Bakar dan penduduk Madinah.
Lalu pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz di lapangan tersebut dibangun sebuah masjid dan diberi nama Masjid Abu Bakar. Oh iya, di Mekah juga ada Masjid Abu Bakar yang lokasinya dekat dengan Masjidil Haram. InsyaAllah pembahasan Masjid Abu Bakar yang di Mekah akan kita buatkan ruang khusus di tulisan lainnya.
Sosok Abu Bakar sendiri kita tahu adalah salah satu sahabat terdekat Nabi dan menjadi penerus kepemimpinan Nabi pertama kalinya atau Khulafaur Rasyidin setelah Nabi wafat.
Masjid Ali bin Abi Thalib
Masjid bersejarah lainnya yang dekat dengan Masjid Nabawi adalah Masjid Ali bin Abi Thalib. Posisinya juga tidak jauh dari Masjid Abu Bakar Assidiq.
Masjid Ali bin Abi Thalib ada di samping jalan raya Assalam. Ada beberapa tempat duduk umum di bagian luar masjid yang nyaman untuk kita duduk mentafakuri perjuangan Nabi dan para sahabat sembari mengagumi kokohnya masjid-masjid bersejarah ini.
Masjid ini dipercaya dulunya adalah kediaman Ali bin Abi Thalib bersama keluarganya. Kemudian pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dibangunlah menjadi sebuah masjid dan dinisbatkan namanya pada Khulaur Rasyidin ke-4, Ali bin Abi Thalib.
Menelusuri Jejak Sejarah Nabi dan Para Sahabat dalam Perjalanan Umroh
Salah satu hal yang disyukuri di tahun 2026 ini adalah bisa berkunjung ke Baitullah. Bagaimana tidak, di tengah geopolitik yang masih memanas antara Amerika versus Iran, Allah memberi kesempatan untuk dapat berkunjung ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan perasaan tenang dan alhamdulillah pulang dengan selamat pula.
Selain dua tempat ikonik tersebut alhamdulillah pula bisa berziarah ke tempat-tempat bersejarah lainnya seperti masjid-masjid yang ada di sekitar Masjid Nabawi di Madinah yang menjadi saksi perjalanan dakwah Nabi dan para sahabat.
Mudah-mudahan Allah mudahkan jalan untuk teman-teman yang juga rindu menjadi tamu Allah di Haramain untuk bisa datang ke sana baik dengan travel umroh maupun secara mandiri. Pun bagi yang sudah, semoga Allah kembali memberi kesempatan untuk bisa datang kembali ke Baitullah. Aamiin ya rabbal aalamiin.








Posting Komentar