Sebelum berangkat umroh Syawal kemarin saya sempatkan dulu mencari segala informasi yang berkaitan dengan Mekah maupun Madinah. Alhamdulillah di zaman secanggih saat ini tak sulit mencarinya, karena di berbagai media sosial pun bertebaran banyak berita. Kita tinggal memilah dan memilih mana yang sesuai, jangan sampai mengamini info yang salah atau hoax.
Alhamdulillah istri dan mamah mertua sudah umroh duluan di tahun sebelumnya, jadinya lumayan banyak belajar juga dan menyerap informasi dari pengalaman mereka untuk persiapan umroh saya dengan ummi ~demikian saya memanggil ibu kandung.
Salah satu info yang saya tahu sebelum berangkat umroh adalah bahwa di bawah Masjid Nabawi terdapat museum yang menyimpan koleksi-koleksi bersejarah yang berhubungan dengan dunia literasi Islam. Dan, bersyukur sekali ketika sampai di Madinah, akhirnya bertemu juga dengan museum yang di maksud, yaitu Museum Manuskrip langka atau Rare Manuscripts Exhibition.
Cara Masuk ke Museum Masjid Nabawi
Saya datang ke Museum Masjid Nabawi ketika sedang tidak jadwal ziarah atau city tour dari travel umroh. Maka daripada bingung menghabiskan waktu, saya maksimalkan dengan jalan-jalan bermanfaat menjelajah kawasan Masjid Nabawi yang masih jarang orang kunjungi.
Saya mengunjungi museum setelah sebelumnya mengunjungi Perpustakaan Masjid Nabawi terlebih dahulu di pagi hari sampai salat dzuhur. Baru setelah salat dzuhur dilanjutkan menjelajah ke Museum yang berada di bagian basement.
Ternyata tak sulit mencari lokasi yang dimaksud, karena lumayan banyak arah atau petunjuk untuk bisa sampai ke lokasi museum yang ingin kita tuju. Untuk teman-teman yang berniat berangkat umroh dan belum pernah berkunjung ke museum yang berada di bawah Masjid Nabawi ini, berikut panduan rutenya:
- museum bawah tanah Masjid Nabawi terletak di bagian selatan. Patokannya adalah pintu 369 dekat dengan Raudhah (Makam Nabi Muhammad Saw)
- di dekat pintu 369 ada plang petunjuk dengan tulisan Haram Exceptional Manuscripts Showroom. Nah itulah lokasinya
- turun ke basement, bisa dengan lift ataupun tangga. Saya kemarin menggunakan tangga karena ingin tahu lebih detail setiap jalan yang dilalui untuk menuju museum
- ketika sampai di bagian basement, kita akan dibantu dengan papan petunjuk yang menuju museum ini
- ketika sampai di depan pintu museum, akan ada petugas yang menyambut kita dan mempersilakan masuk. Oh iya, akses masuknya gratis dan bebas baik untuk laki-laki maupun perempuan
Koleksi-koleksi di Museum Masjid Nabawi
Secara garis besar koleksi-koleksi yang ada di museum Masjid Nabawi adalah manuskrip-manuskrip bersejarah. Manuskrip di sini bisa kita pahami sebagai karya tulis atau dokumen berupa naskah kuno bersejarah yang dibuat dengan tulisan tangan.
Contoh beberapa koleksi yang ada di Museum Masjid Nabawi antara lain:
1. Mushaf Kuno
Baru pada masa khalifah Usman bin Affan disepakati untuk mengumpulkan ayat dan surat-surat Al-Qur'an dalam bentuk mushaf. Nah, di museum ini kita bisa melihat seperti apa bentuk mushaf kuno pada masa-masa awal penyusunannya.
2. Manuskrip Kitab dan Hadis
Selain dokumen mushaf Qur'an, ada juga manuskrip hadis dan kitab-kitab yang disusun oleh para ulama terdahulu. Salah satu contoh manuskrip kitab di museum ini adalah Kitab Shahih Bukhori yang sudah berumur ratusan tahun. MasyaAllah.
Di masa sosok ulama Bukhori, kertas sudah ada, sehingga pendokumentasian hadis sudah lebih rapi dalam bentuk pembukuan yang tersusun rapi.
3. Media Penulisan dan Alat Tulis Kuno
Di zaman belum ada kertas, literasi di tanah Arab sudah terkenal hebat di masa lampau. Salah satunya adalah kebiasaan orang Arab menuliskan nama-nama orang tua mereka, sehingga mereka bisa hafal nama nenek moyang mereka sampai lebih dari 7 turunan.
Lalu bagaimana cara mereka mendokumentasikan setiap tulisan? Media penulisan pada zaman nabi sangat sederhana. Banyak yang menulis di daun atau pelepah kurma, daun lontar, kulit binatang, dan juga di bagian tulang belikat unta. Untuk alat tulisnya mereka menggunakan pena yang dibuat dengan meruncingkan buluh di bagian ujungnya, sedangkan untuk tintanya terbuat dari jelaga yang dicampur getah tumbuhan dan air.
Contoh-contoh alat tulis dan media penulisan di masa lampau ini dapat dengan jelas kita lihat kaca pameran Museum Masjid Nabawi.
Kesan Mengunjungi Museum Masjid Nabawi
Alhamdulillah, bersyukur sekali bisa berkunjung ke museum yang ada di basement Masjid Nabawi ini. Melihat semua koleksi-koleksi yang ada di sana serasa terbawa ke masa 1.400 tahun silam di mana Nabi dan para sahabat merintis dakwah setahap demi setahap sesuai arahan firman Allah.
Dari kunjungan ke museum yang buka dari jam 8 pagi sampai 11.30 malam ini saya belajar tentang luar biasanya budaya Bangsa Arab dalam hal literasi. Di tengah keterbatasan alat dan media di masa lampau, mereka tetap berusaha mengikat ilmu dengan perangkat seadanya mulai dari dedaunan, tulang belulang, sampai kulit binatang.
Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat untuk kita dan terutama saya pribadi untuk belajar rapi dalam setiap membuat dan menyimpan dokumentasi-dokumentasi yang insyaAllah bisa berguna untuk khalayak ramai. Seperti halnya tulisan ini, semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman yang berniat melaksanakan ibadah umroh dan kelak bisa berkunjung juga ke museum yang ada di Masjid Nabawi ini dengan petunjuk yang sudah dijelaskan di atas. Aamiin ya robbal aalamiin.









Posting Komentar