Di suatu siang istri mengajak jalan-jalan, tapi tak jelas mau kemana, katanya suntuk di rumah. Ya sudah, siapkan saja dulu motor untuk mengiyakan kemauannya. Tentang tujuan, biarkan angin membawa kita kemana saja 😎
Beruntung kita tinggal di daerah Kadudampit yang berada di bawah kaki Gunung Gede Pangrango yang memiliki beberapa titik wisata alam yang bisa kita jelajah. Maka saat motor melaju, langsung terpikirkan untuk membawa jalan-jalan istri ke daerah Situ Gunung yang memang tak terlalu jauh dari kediaman kita.
Motor melaju dengan santai, sembari menikmati udara sejuk dan jajaran pohon yang memberi kesan segar dengan daun-daun hijaunya. Walau lumayan sering kita lewati jalan Kadudampit ini, tapi tak pernah bosan dengan vibe khas alamnya yang menenangkan.
Beberapa saat sebelum memasuki area Situ Gunung, kita melihat ada sebuah rumah makan di bahu kiri jalan. Di depannya sekilas terlihat tulisan Rumah Makan Lesehan Jemo Lintang. Entah magnet apa yang membuat kita tiba-tiba berpikiran kompak untuk mampir ke sana. Padahal ternyata panggilan alam saja, karena jalan-jalan dadakan ini bertepatan dengan jam makan siang 😊
Mampir Makan Siang di Rumah Makan Lesehan Jemo Lintang
Setelah memarkirkan motor kita langsung masuk ke dalam rumah makan. Ada seorang bapak-bapak yang berjaga di sana. Beliau menyambut dengan ramah sembari mempersilakan kita untuk melihat menu-menu yang tersedia.
Beberapa saat setelah memperhatikan menu-menu yang tersedia di etalase rumah makan kita memesan beberapa makanan mulai dari paket pepes ikan mas, jengkol balado dan karedok. Untuk paket ikan mas dan jengkol sepertinya sudah tersedia di etalase, tetapi karedok jelas harus dibuat dulu. Maka si bapak memanggil ibu (yang sepertinya adalah istri beliau) untuk membuatkannya.
Sembari si ibu membuat karedok dan si bapak mempersiapkan menu-menu yang kita pesan, kita dipersilakan untuk duduk. Duduknya lesehan, ya sesuai nama tempat makannya.
Fasad dari rumah makan ini tampak vintage dengan unsur kayu dan bambu yang mendominasi. Yang membuat segar, cukup banyak tanaman hias yang ditempatkan pojokan tempat makan. Bertambah segar lagi suasana di Jemo Lintang ini dengan pemandangan alam yang indah dari jendela yang memang dibuka besar.
Sepertinya rumah makan ini tak hanya dikelola oleh pasangan sepuh ini, karena mereka tampaknya memiliki partner yang menemani, beberapa diantaranya mendekat kami ke meja makan. Yup, si anabul putih dengan santai ikut duduk lesehan dekat dengan kami. Dia santai di atas karpet tebal coklat sambil menjilati bagian-bagian tubuhnya.
Untuk alamatnya Rumah Makan Jemo Lintang ini ada di:
Jalan Kadudampit KM.07, Situ Gunung, Kabupaten Sukabumi
Patokannya setelah Villa de Tresna atau sebelum Asap Isep Smoke House.
Teh Hangat yang Mengingatkan pada Kenangan di Rumah Nenek
Tak lama si bapak datang dengan membawa dua gelas besar teh hangat. Ah, ini sih cocok sekali menyeruput teh hangat di tengah udara kawasan dekat Situ Gunung yang memang terkenal dingin.
Dari aroma teh yang disajikan serasa mengingatkan pada air teh khas yang dulu sering saya minum di rumah almarhum nenek. Ketika diseruput, makin terasa benar-benar mirip air teh yang sering diseduh nenek. Air teh rasa pekat dengan menggunakan teh hitam.
Dulu waktu kecil lumayan sering nginap ke rumah nenek di akhir pekan. Kenapa sering? Karena memang rumah nenek hanya beda kampung saja, sehingga bisa ditempuh bahkan dengan jalan kaki 30 menitan.
Nenek biasa menyiapkan air teh untuk minum sehari-hari. Daun teh nya sendiri didapatkan dari perkebunan teh yang berada di kampung kami. Jadi benar-benar diproses secara manual, mulai dari penggilasan daun, penjemuran agar daun kering, disangrai, sampai akhirnya siap diseduh.
Bersyukur sekali memiliki kenangan-kenangan bahagia bersama almarhum nenek, dan kini kilasan masa indah itu terbayang kembali saat meneguk air teh di Rumah Makan Lesehan Jemo Lintang.
Paket Ikan Mas yang Komplit
Setelah beberapa saat menunggu sambil menikmati air teh hangat yang disajikan, datanglah menu-menu yang kita pesan. Pertama, ada paket ikan mas yang disajikan cukup komplit.
Untuk pepes ikan mas nya sendiri tidak yang terlalu besar, cukup untuk makan berdua. Dagingnya sangat empuk dengan rempah-rempah khas seperti cabe, tomat, daun bawang dan daun kemangi yang meliputi bagian luar daging dan meresap sampai terasa ke bagian dalam.
Dalam satu wadah paket pepes ikan mas ada pelengkap tahu, tempe dan lalapan yang segar. Untuk lalapannya tidak pelit sama sekali, ada lalapan mentah seperti mentimun, kacang panjang, pohpohan dan selada air, dan pelengkapnya ada lalapan kukusan dari daun singkong. Sebagai pecinta lalapan, asli senang sekali melihat sajian ini.
Tak lengkap ada lalapan kalau tidak ada sambal. Keduanya memang sejoli yang tak bisa dipisahkan. Untuk sambal yang disajikan adalah sambal tomat. Sambalnya disajikan terpisah dengan porsi yang cukup banyak dan rasanya yang pas antara perpaduan pedas dan manis.
Jengkol Balado
Pesanan selanjutnya ada jengkol balado. Ini juga menu yang cukup enak di Rumah Makan Jemo Lintang.
Jengkolnya sendiri tipe yang digoreng sempurna sampai matang, baru kemudian disatukan dengan dimasak ulang bersama bumbu baladonya. Karena digoreng matang ini membuat jengkol tak terlalu beraroma kuat ketika kita makan, dan juga tambahan racikan bumbu balado ala Jemo Lontang ini enak sekali sehingga menjadi sajian yang nikmat.
Karedok sebagai Pelengkap
Untuk pelengkap pesanan makan siang kami, karedok menjadi menu yang tak dilewatkan. Karedok sendiri adalah menu berupa potongan-potongan beberapa macam sayuran yang dicampur dengan bumbu ulekan kacang.
Jadi di Sunda itu ada 2 jenis makanan yang mirip, yaitu lotek dan karedok. Keduanya adalah makanan berupa sayuran yang diulek dengan bumbu kacang. Bedanya kalau lotek menggunakan sayur-sayur yang telah dikukus, sedangkan karedok menggunakan sayuran mentahan. Kalau di Jawa lotek ini mirip dengan pecel sayur.
Untuk sayuran yang ada dalam karedok terdiri dari kacang panjang, mentimun, kol, tauge, terong hijau, dan kemangi. Rasa dari karedok nya sendiri cukup enak. Perpaduan sayur-sayur segar yang dibumbui ragam bumbu ulekan yang didominasi kacang tanah yang kental menghadirkan rasa manis, pedas dan gurih, apalagi dilengkapi dengan kerupuk udang di bagian atasnya membuat sajian ini sayang untuk dilewatkan.
Rencana Dadakan yang Berbuah Manis
Dari semua menu-menu yang kita pesan, tak ada satu pun yang mengecewakan. Saya sampai berterima kasih langsung dengan ibu dan bapak yang empunya warung ini atas sajian masakan mereka yang membuat makan siang dadakan kami di Jemo Lintang ini menjadi sangat nikmat.
Pasangan yang mungkin berusia sekitar 60 tahun ini tampak tersenyum tulus ketika kita mengucapkan terima kasih.
Dan, untuk semua makanan yang kita pesan harganya hanya 55K saja. Harga yang terjangkau untuk makanan yang enak ala Jemo Lintang.
Selesai makan kita memutuskan untuk langsung pulang, tak meneruskan perjalanan ke Situ Gunung, karena kondisi perut yang sudah kekenyangan yang membuat kita sepertinya lebih memilih untuk rebahan setelahnya di rumah saja.
Perjalanan dadakan ini berbuah manis. Kami berjodoh untuk bertemu dengan Rumah Makan Lesehan Jemo Lintang di Kadudampit dan menikmati dari sajian pembuka yang mengingatkan kenangan pada air teh hangat khas almarhum nenek sampai ragam hidangan yang membuat makan siang ini tak terlupakan. Alhamdulillah.







wah, pengen coba Jengkol Balado keknya nikmat bangettt
BalasHapus