Salah satu momen membahagiakan saat melaksanakan umroh Syawal kemarin adalah bisa bertemu salah satu sahabat yang sudah beberapa tahun tinggal di Saudi Arabia. Namanya Kang Peri Supriatna. Ia adalah salah satu sahabat dari masa SMA dan alhamdulillah sampai sekarang kita masih berkomunikasi baik, walau terbatas pada komunikasi online saja karena jarak yang memisahkan.
Kang Peri tinggal di Riyadh. Tapi ketika diberitahu saya sedang melaksanakan umroh, Kang Peri bela-belain terbang ke Madinah untuk bisa bertemu. Alhamdulillah senangnya luar biasa, akhirnya bisa bertemu langsung setelah sekian tahun.
Di antara momen-momen pertemuan itu Kang Peri mengajak makan bakso. Katanya di Madinah ada tempat makan bakso yang terkenal enak. Nama tempatnya Sunda Med.
Sunda Med: Restoran Sunda di Madinah
Awal kedatangan kita ke Madinah, tour leader kita mengajak untuk ziarah ke Masjid Quba, yang lokasinya tak jauh dari Masjid Nabawi. Sore harinya selepas city tour alhamdulillah bisa bertemu dengan Kang Peri di pelataran Masjid Nabawi.
Senang rasanya bisa bertemu dan ngobrol ngaler ngidul dengan salah satu sahabat terbaik yang kita miliki. Istilahnya ini bertemu dengan orang baik, di tempat yang baik.
Ketika malam beranjak, Kang Peri mengajak makan bakso di salah satu restoran yang lokasinya tak jauh dari Masjid Nabawi. Tentu saja ajakan ini tak bisa ditolak. Siapa juga yang tak kangen bakso ketika kita sedang jauh dari tanah air, kan.
Makanya selepas salat Isya di Masjid Nabawi, ngobrol kanan kiri, kita lanjut jalan kaki menuju restoran Sunda Med. Oh iya, Sunda Med ini ada dua cabangnya yang dekat dengan Masjid Nabawi. Satu di dekat gate 330 dan satu lagi di dekat gate 316.
Yang kita datangi adalah Sunda Med yang dekat dengan gate 316. Lokasi tepatnya ada di bawah Hotel Qasr Al-Ansar, di area King Faisol Road.
Ternyata Kang Peri juga pertama kalinya datang ke Sunda Med yang dekat gate 316 ini. Jadi kita lumayan muter-muter mencari lokasi tepatnya pas awal-awal jalan. Alhamdulillah dengan bantuan google maps akhirnya ketemu juga.
Pas datang ke Sunda Med antriannya cukup panjang, padahal waktu itu sudah lumayan malam juga. Kok bisa, ya sampai malam restoran ini tetap ramai? Ternyata restoran ini katanya buka 24 jam, jadi sampai tengah malam pun biasanya tetap ada saja yang membeli.
Saat mengantri ke bagian pemesanan saya sempat berpikir juga. Ini nanti kalau sudah dapat pesanan makanannya, terus mau makan di mana? Ini karena semua kursi terlihat penuh, baik di bagian dalam restoran maupun di bagian luar. Sepenuh itu ternyata restoran ini.
Tapi alhamdulillah selepas memesan, ternyata berbarengan dengan satu spot meja kursi di bagian luar restoran yang ditinggalkan pelanggan yang telah selesai makan. Akhirnya kita bisa duduk santai sambil menikmati menu pesanan kita, ditemani lalu lalang orang dan kendaraan di salah satu sudut jalan Madinah ini.
Menu Pesanan Kita di Sunda Med
Walaupun namanya Sunda Med, tetapi di restoran ini menu-menu yang tersedia tidak hanya makanan-makanan khas Tanah Pasundan. Cukup banyak juga pilihan makanan-makanan Indonesia lainnya yang bisa kita pesan.
Kalau kita karena dari awalnya sudah diniatkan mau nge-bakso, jadinya kita tetap pilih bakso, ditambah menu lainnya untuk tambahan.
2 Mangkuk Bakso
Pesanan utama kita tentu saja bakso, sesuai dengan niatan awal kita datang ke sini. Harganya 25 SAR (Saudi Arabia Riyal) per porsi. Kalau dirupiahkan kira-kira sekitar 112.500 dengan nilai tukar 4.500 waktu itu.
Rasanya menurut saya agak keasinan, tapi menurut Kang Peri sih sudah pas enaknya. Mungkin ini selera saja sepertinya. Yang jelas porsinya mengenyangkan karena disajikan dalam mangkuk ukuran medium dengan isian yang full, perpaduan bakso dan kondimen-kondimen lainnya.
Martabak Keju
Pesanan selanjutnya ada martabak keju kesukaan Kang Peri. Sebenarnya 1 mangkuk bakso saja sudah mengenyangkan, tetapi karena rindunya pada makanan tanah air, potongan demi potongan martabak keju ini habis juga oleh kita berdua. Untuk harganya martabak keju ini sama dengan seporsi mie bakso, 25 SAR.
Es Teh Manis
Untuk minumnya kita pesan es teh manis. Awalnya kita mau pesan jus, tapi ternyata sudah habis, jadinya pesan yang ada saja. Untuk harganya 1 cup teh manis ini 5 SAR.
Selayaknya es teh manis, rasanya menyegarkan, ditambah dengan aroma teh dan bunga melati khas Indonesia, seketika serasa berada di tanah air ketika menyeruputnya. Alhamdulillah.
Kesan Makan di Sunda Med
Alhamdulillah rasa rindu dengan kuliner Indonesia sedikit terobati ketika berada di tanah suci dengan menikmati bakso dan martabak keju ala Sunda Med di Madinah. Semakin lengkap nikmatnya dengan ditutup segelas es teh manis dengan aroma melati khas Indonesia.
Untuk semua makanan dan minuman yang kita pesan harganya 85 SAR. Kalau dirupiahkan sekitar 382.500 dengan kurs 4.500. Entah dengan nilai tukar saat ini, mungkin lebih mahal, secara rupiah terus menurun. Ah, sudahlah, nanti malah tambah pusing memikirkan rupiah yang sudah tembus 18.000 per 1 USD saat ini.
Yang paling mahal dari momen ini adalah bertemunya dengan seorang sahabat yang sudah lama tak bersua. Saya semenjak sekolah tingkat SD sampai SMA memang tak banyak memiliki teman, hanya beberapa saja. Makanya bersyukur sekali bisa terus berkomunikasi sampai saat ini dengan teman-teman terbaik yang dimiliki.
Hatur nuhun Kang Peri untuk traktirannya. Ditunggu di Indonesia kalau ada waktu cuti, atau mudah-mudahan saya dan teman-teman lainnya ke kembali ke Haramain. Mudah-mudahan kita bisa berhaji atau berumroh bersama suatu saat, sembari mengeksplor tempat-tempat unik lainnya baik di Mekah maupun Madinah. Aamiin.







Alhamdulillah yaa Kak, pas lagi di tanah suci bisa ketemu lagi dengan sahabat lama, ditraktir pula. Baksonya kelihatan enak. Martabak ternyata martabak manis ya?
BalasHapusTulisan-tulisan lain tentang perjalanan umroh adakah di blog ini?
Iya martabak manis rasa keju, Mbak Avi.
HapusUntuk tulisan-tulisan pengalaman dan perjalanan umroh ada sebagian di niche/label ziarah Mbak
Aduh kang Yonal,,,meni raos mendakan baso sareng martabak di Madinah. Asa nuju aya di lembur wae,,,Alhamdulillah yaa umroh bisa ketemu sama sahabat yang sedang merantau di tanah Arab. masya Allah tabarakallah, mugia sehat-sehat sadayana.
BalasHapusRasanya Nemu restoran yang menyediakan makanan Indonesia di luar negeri, dalam cerita ini di Madinah, emang kayak kebahagiaan tersendiri ya, Kak.
BalasHapusApalagi ditemani sama sahabat yang memang sudah lama tinggal di negara tersebut.
Mana kawannya bela-belain terbang ke sana karena tinggalnya di Riyadh pula.
Masya Allah, bertemu teman lama yang merupakan teman baik di tempat yang baik adalah rezeki double combo sekali. Apalagi kang Peri ini sudah menetap di sana cukup lama, pasti tau banyak hal terkait area sekitar.
BalasHapusAlhamdulillah, rame banget ya restoran Sunda Med di Madinah ini. Takjub banget, udah malam pun masih mengantri lho.
Saya yang sebentar lagi umroh jadi agak deg-degan mau tukar uang ke Riyal hehe, soalnya Rupiah saat ini makin anjlok euy. Duh jadi curhat.
Dua mangkok bakso untuk berdua, lalu ditambah martabak keju dan obrolan berkesan, pasti jadi momen yang membekas hangat dalam ingatan. Barakallah banget bisa meet up di sana ya.
Seneng banget kalau kuliner nusantara ada di mana-mana, termasuk di Madinah juga. Soalnya jadi terasa seperti di rumah sendiri ya, dan membuat ibadah lebih tenang, ga yang terasa shock kalcer
BalasHapusWah, mantapppp Kang Yonal. Even di tanah suci pun nyariinnya makanan khas nusantara, hihihi. Judulnya susundaan, tapi makanannya tetap mie ayam, hihihi.
BalasHapusAgak mengkaget juga mang, kok ujug-ujug ada kue terang bulan? hehehe. jadi keingetan sogokan saya terhadap mertua dulu nih.
Sedih memang kalo liat rate rupiah makin kesini sih. jadi berasa mwahallll...
Punten Kang Fajar, saya ga makan dan ga bahas Mie ayam di tulisan ini, apalagi tentang kue terang bulan, tak ada sama sekali!
HapusSelamat menjalankan umrohnya mas Yonal. Moga selamat pulang pergi dan sepanjang menjalankan ibadah umroh di lancarkan segala urusannya. 🙏🏻❣️
BalasHapusRasanya menyenangkan bisa umroh terus ketemu temen SMA dulu, apalagi di sana ada resto Indonesia juga. Jadi kalau butuh makanan lokal nggak perlu repot. Eh tapi aku penasaran, biasnaya kalau resto indo di luar tuh apa rasanya mirip ya Mas? Karena kan biasanya ada penyesuaian bahan juga.. 🤤🤤
Alhamdulillah, senang pisan pastinya jumpa teman di bumi Allah sana. Apalagi sambil menikmati kuliner khas tanah air, bakso dan martabak
BalasHapusYang punya Sunda med itu urang Sunda kah?
Memang ya banyak orang Sukabumi Cianjur dll yg udah mukim di Aran Saudi itu
wainiiiiii Definisi "bertemu orang baik di tempat yang baik" itu benar-benar terasa nyata. Kebayang gimana bahagianya bisa reunion bareng sahabat SMA yang jauh-jauh terbang dari Riyadh demi melepas rindu di Madinah. Sungguh tak disangka dan dinyana ya kang Yonal..........
BalasHapusMakan bakso full porsi ditemani es teh manis aroma melati di dekat Masjid Nabawi pasti rasanya magis banget, meski harganya lumayan bikin dompet bergetar kalau dikonversi ke Rupiah, ya! Tapi benar kata Akang, momen kebersamaan dan nilai persahabatan itu yang harganya tak ternilai.
Masya Allah.. ngiring raos.. belum pernah coba nih basonya .. Semoga ada rezekinya bisa nyobain juga makan baso Sunda yang jauh dari Jawa Barat. Oh iyaa Per hari ini nilai tukar rupiahnya udah ke 17.700 kang .. semoga makin menguat >.<
BalasHapusJauh2 ke Masjidil Haram, eh ternyata ketemu bakso nusantara. Emg selera org Indo tuh unik. Ga bisa makan makanan asing kalo di tempat asing. Kecuali emg lidahnya udh nyaman dgn semua masakan ya.
BalasHapusUntung aja ada temen yg tinggal di Riyadh. Jadi bs diajak ketemuan tuh di Madinah. Kapan lagi bs ktmu temen SMA saat ibadah umrah loh. Pasti seru bgt bs silaturahmi di sana.
Emg harga semangkok bakso dan makanan lokal kita di sana berasa mahaaaal bgt. Tp lumayan bs mengobati rindu makanan nusantara saat ibadah di Tanah Suci.
Judulnya saja sudah mengandung keberkaha, di traktir bakso di Madinah pula! Eh, aku baru ngeh dan baru tahu bisa makan bakso di Madinah. Jadi pengen nceritain ke sodara-sodara yang mau berangkat umroh. Itu mienya kayaknya sedikit beda sama yang di indo yak. Duh, ternyata ada martabak keju juga di sana. Gimana ya rasanya makan bakso, es teh, martabak di Madinah? Kombinasi yang bikin penasaran sih, hayo ada yag mau traktir saya juga nggak di sana, hehe
BalasHapusMasya Allah, bacanya ikut terharu sekaligus ngiler. Beneran rezeki banget bisa ketemu sahabat lama di tempat terbaik kayak Madinah, mana pakai dibelain terbang dari Riyadh pula demi nyamperin. Lucu juga ya, jauh-jauh ke tanah suci ujung-ujungnya nyari bakso sama martabak keju juga, emang lidah Indonesia nggak bisa bohong kalau urusan kangen rumah, haha. Walaupun harganya lumayan merogoh kocek kalau dirupiahkan, tapi vibes makan di pinggir jalan Madinah sambil ngobrol ngalor-ngidul sama sahabat itu yang nggak ada tandingannya sih. Semoga kita semua dimampukan untuk berkunjung ke sana netah umrah atau haji, aamien ya Rabb.
BalasHapusKalau kita rupiahin memang pastinya jadi mahal ya, kak harga makanan yang dimakan. Apalagi ini makanan Indonesia yang kalau kita makan di sini harganya paling 20 ribu. Tapi begitulah ya nasib kalau nilai mata uang kita lemah dibanding negara yang dikunjungi.
BalasHapusWah, ada bakso dan martabak manis
BalasHapusBeneran bisa mengobati kerinduan akan kuliner khas Indonesia ya mbak
Baksonya menul menul
Ya Allah impian banget bisa makan bakso di Madinah :D
BalasHapusTemennya baik bener lho, udah lama nggak ketemu, dibela2in yaa naik pesawat dari Riyadh :D
Baksonya mayan banyak porsinya yaa.
Wah kenapa tu mas kok bisa keasinan? Hehe. Kalau di beberapa warung biasanya emang kuah dibikin agak anyep lalu suka dihidangkan sama garam ya, kalau di sini. Mungkin di sana udah di-pas-in aja sama lidah kebanyakan orang Indonesia yang datang.
Abis ngebakso makan martabak manis, duh enak bener :D
Masyaaallah... Pasti senang banget ketemu sahabat lama di Madinah.
BalasHapusTernyata di sana juga ada restoran sunda ya. Makan bakso di luar Indonesia pasti sensasinya berbeda. Ada martabak manis juga. Mantap lha pokoknya.
Wah enak ya, ada temen di sana yg bisa jd tour guide. Sekalian reuni di tempat yg baik. MasyaAllah.
BalasHapusBakso emang boleh dilewatkan sih, klo sdg di luar negeri, yg doyan bakso pasti kangen berat. Thanks kak, jd ada referensi bakso/kuliner Indonesia nih klo ke Madinah, bisa coba ke resto Sunda Med